Hits

Footer Left Content

Maket Kantor Pusat CU SJ

Gedung yang representatif merupakan buah karya pengurus bersama seluruh anggota. Gedung yang megah dan kokoh ini adalah milik bersama, karena dibangun dengan kekuatan bersama.

Pertemuan CU se Indonesia di Bali

General Manager CU Semandang Jaya, Blasius Hendi Chandra (kanan) saat mengikuti pertemuan CU seluruh Indonesia di Bali, Mei 2011.

Pelayanan yang Ramah dan Terbuka

CU Semandang Jaya menempatkan aspek pelayanan sebagai pilar utama dalam berkarya. Para anggota akan mendapatkan sambutan yang hangat, serta penjelasan yang terbuka dari para pengurus maupun aktivis CU.

Jumat, 24 Juni 2011

PM Sitanggang: Cerita Sukses Credit Union

PM Sitanggang. Foto: KOMPAS/KHAERUDIN
KOMPAS.com — Jalan hidup Pintaraja Marianus Sitanggang berubah sepulang mengikuti seminar perburuhan di Baguio City, Filipina, tahun 1970. Sitanggang yang saat itu menjadi guru SMA Katolik Budi Mulia, Pematang Siantar, Sumatera Utara, berada di Filipina karena ditugaskan Pengurus Pusat Persatuan Guru Katolik.

Salah satu materi seminar perburuhan itu tentang credit union (CU), yang di Indonesia diterjemahkan secara bebas sebagai koperasi kredit. Sepulang dari Filipina, Sitanggang tergerak mendirikan CU di sekolahnya.

Ia mengajak guru dan karyawan SMA Budi Mulia. Namun, kondisi ekonomi saat itu belum pulih setelah lonjakan inflasi pada akhir pemerintahan Presiden Soekarno. Ini membuat tak banyak orang tertarik pada ide koperasi simpan pinjam itu.

Sitanggang tak kehilangan akal. Sebagai ketua yayasan, ia lalu memotong sebagian gaji guru dan karyawan sebagai simpanan saham. Simpanan saham dalam Undang-Undang Koperasi dikenal dengan istilah simpanan wajib anggota.

Ia juga mengajak guru dan karyawan SMA Cinta Rakyat bergabung agar permodalan CU semakin kuat. Pada tahun 1973 terbentuklah CU Cinta Mulia.

Pada awal tahun 1970 pula, Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Agung Medan mengadakan kursus dasar pembentukan CU. Mendengar di Pematang Siantar sudah ada CU yang didirikan Sitanggang, Keuskupan Agung Medan membentuk tim untuk menyosialisasikan ide pendirian CU ke beberapa daerah lain di Sumut.

”Waktu itu lembaga keuangan, apalagi koperasi, hampir tak dipercaya masyarakat. Di sisi lain, masyarakat miskin di desa-desa tak mengenal konsep menabung karena untuk makan saja sulit,” ujarnya.

Tantangan membentuk permodalan bersama bagi rakyat miskin di pedesaan tak menyurutkan semangat Sitanggang. Ia tak ragu mendatangi kedai tuak, mengunjungi rumah warga di pelosok Sumut, hanya untuk memberi pemahaman bahwa semiskin-miskinnya orang masih ada yang bisa mereka sumbangkan.

Dengan berkantor di gereja selama 10 tahun pertama, CU mulai dilirik masyarakat. ”Wibawa gereja membuat masyarakat percaya kepada CU,” katanya.

Namun, awal tahun 1980 gereja menarik diri dari pengembangan CU. ”Secara perlahan gereja mundur karena memang bukan tugasnya,” ujar Sitanggang.

Hikmahnya, CU menjadi semakin inklusif. CU menjadi lembaga keuangan yang tak hanya dimiliki jemaat gereja Katolik, tetapi juga mereka yang beragama lain.

Mulai bermunculan

Setelah Pematang Siantar, CU kemudian berdiri juga di Pakkat dan Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan, Siborongborong, Tapanuli Utara, Aek Kanopan, Labuhan Batu Utara, Tebing Tinggi, serta Barus dan Manduamas, Tapanuli Tengah.

Bermunculannya CU ini lalu menumbuhkan Badan Pengembangan Daerah Koperasi Kredit Sumut yang menjadi cikal bakal koperasi sekunder (pusat koperasi di tingkat provinsi), Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah (BK3D). Penyesuaian nama sejalan dengan Undang-Undang Koperasi, membuat BK3D diubah menjadi Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit), dan Sitanggang menjadi ketuanya hingga kini.

Ia juga menjaga filosofi koperasi sebagai lembaga keuangan yang didirikan secara bersama untuk mengubah nasib anggotanya. Ia memegang teguh prinsip; koperasi dibentuk karena ada sekelompok orang yang merasa senasib dan menyadari bersama nasib mereka harus diperbaiki.

”Kebersamaan di CU diwujudkan dengan menyimpan dan memberikan pinjaman kepada anggota yang paling memerlukan,” ujar Sitanggang yang juga bercerita bahwa hingga akhir tahun 1970 CU tak boleh menggunakan nama koperasi.

”Ini karena koperasi di desa, menurut pemerintah, hanya satu, yakni KUD (koperasi unit desa). CU terpaksa bergerak sembunyi-sembunyi karena kalau ketahuan pemerintah saat itu kami dipaksa masuk KUD. Padahal, banyak KUD mengingkari prinsip koperasi. Pengurusnya ditunjuk pejabat di daerah di mana KUD berada, bukan berdasarkan kemauan anggota,” katanya.

Selain itu, ia juga harus berusaha menyadarkan warga miskin di pedesaan agar menyisihkan sebagian uang mereka sebagai simpanan saham anggota CU. Pada awal pendirian, simpanan saham anggota CU Rp 200 per bulan. Kini, simpanan saham Rp 10.000-Rp 50.000. ”Simpanan saham ini menjadi tanda andil anggota sebagai pemilik CU,” ujarnya.

Daya tarik

Sebagai koperasi simpan pinjam, daya tarik CU adalah penyaluran kredit atau pinjaman kepada anggota. Guna menghimpun modal, CU juga memiliki berbagai produk simpanan nonsaham, seperti simpanan bunga harian (sibuhar) yang mirip tabanas, simpanan pendidikan (mirip tabungan berencana), dan simpanan sukarela berjangka (mirip deposito).

Sebagai lembaga pembiayaan, saingan CU adalah bank. Jadilah persaingan itu berkaitan dengan penentuan suku bunga. Jika suku bunga simpanan bank di bawah 9 persen, CU menetapkan di atasnya, yaitu 9-15 persen. Jika suku bunga pinjaman bank dihitung berdasarkan total pinjaman, suku bunga pinjaman CU berlaku menurun, dihitung dari sisa pokok pinjaman dengan besaran bunga 2,5 persen. ”Di desa yang CU-nya besar, bank umumnya enggak laku.”

”Tetapi, kami juga harus menjaga ’penyakit’ anggota CU, yang biasa disebut lapar kredit. Saya selalu ingatkan filosofi CU yang utama adalah keswadayaan. Kredit diberikan kepada mereka yang paling membutuhkan di antara anggota. Makanya, CU menetapkan beberapa aturan agar seseorang bisa mendapatkan kredit, salah satunya hadir rutin dalam pertemuan kelompok, prestasinya dalam menabung, dan tak bermasalah dalam pembayaran pinjaman,” katanya.

Sebagai koperasi yang sejak awal ingin memberdayakan warga miskin, terutama di pedesaan yang warganya mayoritas petani, CU menjadi penolong. ”Kami bisa memberikan pinjaman bagi anggota yang mengalami gagal panen. Kalau mereka tak diberikan stimulus pinjaman baru, justru nantinya bakal menjadi kredit macet di CU,” katanya.

Kerja keras Sitanggang selama 40 tahun berbuah manis. Berawal sebuah koperasi yang dibentuk dari dua SMA di Pematang Siantar, kini ada 61 CU di bawah Puskopdit BK3D Sumut. Total aset CU di bawah Puskopdit BK3D ini, per November 2010, mencapai Rp 1 triliun. Uang tersebut semuanya berasal dari simpanan saham anggota CU yang jumlahnya lebih dari 250.000 anggota.

Sumber: Kompas (dot) com di link ini.

Senin, 20 Juni 2011

Memanggul laba dari tas outdoor bikinan sendiri

Di tengah persaingan yang ketat, produk tas kegiatan outdoor lokal mulai mendapat angin di negeri sendiri. Dengan kualitas yang setara tas impor, banyak orang yang memilih tas bikinan lokal ketimbang tas impor. Apalagi, harga tas bikinan pengusaha lokal lebih terjangkau ketimbang buatan luar. Produsen tas pun mengantongi rezeki berlimpah.

Berawal dari hobi lahirlah bisnis tas. Itulah yang dialami Tomi Sugianto. Awalnya, Tomi adalah penghobi berat naik gunung. Tak terhitung sudah berapa banyak puncak gunung berhasil ia daki. Salah satu kebutuhan utama untuk mendaki gunung adalah tas.

Tomi bercerita, sekitar 10 tahun yang lalu, tas gunung dengan merek-merek luar negeri menjadi incarannya. Utamanya produk dari Amerika dan Jerman. Kerap memakai tas-tas impor membersitkan ide Tomi untuk membuat tas untuk kebutuhan naik gunung. Setelah melakukan pengamatan, ia yakin bisa membuat tas sejenis. Ia pun lantas mencari bahan-bahan dengan kualitas bagus untuk membuat tas. Pilihannya adalah kodurai dan polyester.

Setelah beberapa kali mencoba, Tomi berhasil membuat tas yang kuat sekaligus nyaman kala dipanggul. Ia pun lantas memasang merek Gravell. "Alhamdulillah, sekarang jadi andalan banyak pecinta gunung," ujarnya bangga.

Untuk memenangkan pasar, ia harus mementingkan kualitas. Kualitas ini bisa diukur dari daya tahan serta kekuatan tas mengangkat beban barang bawaan. "Desain menjadi urusan selanjutnya," ujarnya.

Agar mendapat tempat di kalangan pecinta kegiatan mendaki gunung, Tomi menyasar komunitas-komunitas pecinta alam. Ini terbilang mudah karena Tomi tergabung di dalamnya. Dari mulut ke mulut, Tomi juga memasarkan tas bikinannya di kampus-kampus.

Berbeda dengan dulu, tas untuk kegiatan outdoor bikinan pengusaha lokal semakin diminati pasar. "Selain harganya lebih murah, kualitasnya kian bagus," ujar Tomi yang mampu memproduksi hingga 300 tas gunung dengan berbagai ukuran saban bulan.

Tas terkecil memiliki tinggi 60 cm. Adapun paling besar ukurannya 100 liter atau tingginya setara 1 meter. Harganya mulai dari Rp 225.000 hingga Rp 550.000.

Pada hari biasa, Tomi mampu meraih pendapatan hingga Rp 80 juta per bulan. Saat musim-musim pendakian seperti bulan Juli hingga akhir tahun, "Penjualannya bisa dua kali lipat," ujarnya.

Donny Kurniawan, pemilik toko tas dan perlengkapan hiking Rinjani Raya menambahkan, tahun 2000 adalah momentum tas gunung buatan lokal. Kini, dengan merek Redman, ia bisa menjual tas hingga 150 tas per bulannya.

Ada empat tas buatan Donny, yakni Redman Walker 40 liter dengan harga Rp 160.000, Redman X-Over 60 liter dengan harga Rp 265.000, Redman Light 80 liter Rp 365.000 dan Redman X-File 80 liter Rp 335.000. Dari situ, Donny mampu mengantongi omzet hingga Rp 50 juta per bulan.

Dari berbagai model, tas Redman X-Over 60 liter menjadi item terlaris. "Model itu mendominasi 40% dari total penjualan," ujar pria yang sudah bergelut dalam bisnis tas sejak 1999. Pelanggannya kebanyakan berasal dari mahasiswa, pencinta alam, dan klub hiking.

Saat libur panjang yang biasanya jatuh pada pertengahan tahun menjadi saatnya mendulang rezeki. "Penjualan bisa naik sampai 30%," ujarnya. Musim libur banyak orang naik gunung untuk menghilangkan penat.

Donny yakin, bisnis tas untuk kegiatan outdoor ke depan masih sangat menjanjikan. Mengingat Indonesia termasuk negara yang kaya akan gunung. Ini bisa menjadi daya tarik bagi pendaki asing sekaligus lokal. Selain itu, pasar tas untuk kegiatan outdoor juga luas. Tak hanya diminati pecinta gunung tapi pecinta alam dengan aktivitas lain.

Namun, agar bisa bertahan di pasar, kualitas harus dijaga. Selain masih banyaknya produk-produk asing, produk-produk lokal juga terus muncul. "Itu menjadi tantangan kami," ujar Donny yang menggunakan polyester dalam pembuatan tasnya.

Dibantu lima karyawan, Donny kini memiliki tiga cabang, yakni di Bandung, Semarang, dan Yogyakarta. Adapun kantor pusatnya tetap ada di Jakarta.

Sumber artikel dari kontan online di link ini.

Dinny, aktivis perempuan pelopor gerakan ekonomi kaum perempuan

Era reformasi telah berlangsung selama 13 tahun, namun masih menyisakan semangat pada diri Dinny Jusuf. Salah satu aktivis perempuan ini tergerak mendirikan Suara Ibu Peduli, koperasi simpan-pinjam di daerah miskin di Jakarta. Tak berhenti di situ, ia juga membangun usaha Toraja Melo untuk mengangkat pamor kain tenun Toraja.

Berawal dari aktivitasnya sebagai pejuang hak-hak perempuan sejak tahun 1998, Dinny Jusuf bersama dengan Karlina Supeli membangun organisasi Suara Ibu Peduli. Organisasi itu mulai dirintis, tepatnya, ketika ada kenaikan harga susu yang meresahkan banyak ibu-ibu.

Tak hanya turun ke jalan dan berdemonstrasi, bersama aktivis perempuan lainnya, Dini juga memberikan pendidikan politik. "Tapi, ini tak berlangsung lama," kenang Dinny. Pendidikan politik, kata Dinny, tak banyak bermanfaat bagi perempuan yang memiliki tugas utama di rumah.

Pengalamannya yang sempat bekerja untuk Women's World Banking untuk urusan mikrokredit di Indonesia, mendorong Dinny mengalihkan kegiatan organisasi pada dunia ekonomi. Ia ingin memberi modal kepada perempuan-perempuan yang ingin memulai usaha.

Rupanya, Dinny terinspirasi oleh Mursia Zaafril Ilyas, seorang penggiat koperasi perempuan di Malang. "Saya terkesan dengan beliau yang mampu merangkul perempuan-perempuan Indonesia lewat koperasi," terang wanita yang hobi travelling di Indonesia ini.

Lantas, ia pun membangun koperasi simpan pinjam di Suara Ibu Peduli. Tak sekadar mendorong berdirinya koperasi simpan pinjam, Dinny juga mendampingi anggota dari Suara Ibu Peduli untuk belajar soal teknologi hingga memperkenalkan sebuah sistem kerja bagi perempuan-perempuan di organisasi itu. "Adanya sistem akan membuat mereka menjadi sosok yang profesional, jujur, tertib dan disiplin," papar Dinny.

Pendidikan ini ternyata mampu menggugah para perempuan di Suara Ibu Peduli menjadi mandiri. Kiprah anggota organisasi itu juga tak hanya di kandang, tapi juga telah dikenal masyarakat luas. "Banyak dari anggota kami yang telah menjadi pengajar dan pembicara di berbagai seminar dan penulis di media massa," ujar Dinny.

Kini, suara Ibu Peduli telah memiliki 600 anggota yang tersebar dalam 14 cabang di daerah miskin seputar Jakarta. Setelah 13 tahun berlalu, Suara Ibu Peduli pun menghadapi tantangan yang berbeda. "Maklum, dulu, belum banyak bank yang menawarkan kredit usaha kepada perempuan-perempuan, tapi sekarang telah menjamur dimana-mana," papar wanita yang kini menjadi anggota Dewan Penasihat Suara Ibu Peduli.

Pada tahun 2008, Dinny melepas Suara Ibu Peduli. Ia ingin menikmati hari tuanya di Toraja, Sulawesi Selatan yang menjadi kampung halaman sang suami.

Di tengah hari-hari menikmati masa pensiun, Dinny justru tergerak ketika melihat tenun-tenun Toraja. "Saya melihat kain tenun Toraja yang indah tidak mendapat penghargaan tinggi," katanya.

Ia melihat banyak kain tenun yang tergeletak begitu saja dan tak banyak perempuan Toraja yang terlihat menggunakan tenun sebagai pakaian mereka sehari-hari. "Kain tenun Toraja hanya dipakai saat melangsungkan upacara adat," ungkap Dinny. Kondisi ini menggugah jiwa Dinny untuk membuat sesuatu lewat kain tenun Toraja.

Sayang, ketika pertama kali memulainya, Dinny tak mendapat dukungan dari sang suami dan penduduk sekitar. "Bahkan, saya sempat diledek gila," katanya sambil tertawa.

Namun, Dinny tak berkecil hati. Niatnya sudah mantap untuk membawa tenun Toraja sebagai salah satu bahan pakaian yang kasual dan modern hingga mendapat banyak penggemar dari masyarakat Indonesia. Lantas, ia pun mendirikan usaha tenun kain Toraja bernama Toraja Melo yang berarti Toraja Indah.

Dinny menyadari kain tenun adalah bagian dari akar budaya tanah air yang perlu dibanggakan. Ia pun membidik pasar kaum menengah atas yang juga pecinta merek-merek dari luar negeri, sambil berharap mereka kembali mencintai produk dari dalam negeri.

Toraja Melo membuat berbagai produk dari tenun Toraja seperti, tas, gaun, sepatu hingga sandal dengan model yang mengikuti tren saat ini. Dinny menggandeng Dina Middiana, perancang busana, untuk menonjolkan karakter kain tenun Toraja yang feminin sekaligus maskulin.

Jiwa sosial Dinny pun kembali muncul, ketika melihat kondisi perempuan di sekitar rumahnya di Toraja. Peranan perempuan terbilang kompleks, yang dituntut menjadi seorang ibu di rumah sekaligus juga harus membantu perekonomian keluarga.

Ia pun kemudian melibatkan 100 perempuan penenun Toraja di wilayah Sa'dan, Toraja Utara. Niat Dinny tidak hanya sekedar menjadikan kain tenun Toraja kembali diproduksi dengan bagus dan massal. Mantan pegawai Citibank ini juga berharap, bisa mengangkat seni tenun Toraja. "Baik dari sisi teknik, mutu dan penggunaan kain. Bagi para perempuan penenun juga akan meningkatkan kesejahteraan mereka," ujarnya.

Usaha Dinny untuk kembali mengangkat kain tenun Toraja pun berbuah manis. Berbagai produk Toraja Melo bisa diterima pasar. Bahkan baru-baru ini, Dinny terlibat dalam acara fesyen bergengsi, yakni Jakarta Fashion and Food Festival yang digelar oleh salah satu pengembang properti ternama ibukota, akhir Mei lalu.

Tak ketinggalan, pada perhelatan itu, ia menjual produk Toraja Melo mulai dari Rp 750.000 hingga Rp 1,5 juta. Ia pun mampu mengantongi pendapatan hingga Rp 20 juta untuk setiap kali pameran berlangsung.

Sumber artikel kontan online di link ini.

Peluang Investasi Orang Kota, Peluang Usaha Orang Desa

Banyak peluang usaha yang berserakan di sekitar kita. Cerita tentang limbah jadi harta melimpah sudah banyak kita dengar. Tetapi dari sekian banyak potensi itu tulisan ini akan bicara tentang potensi luar biasa dari kelinci. Jangan dibayangkan kelinci yang dimaksud adalah kelinci kampung yang kurus-kurus dan hidup dipelihara petani secara tradisional, melainkan kelinci jenis impor yang memiliki beragam jenis tubuh; mulai yang kerdil (berbobot 7 ons) hingga kelinci jumbo (berbobot 6-8 Kg). Sekarang ini di Indonesia sudah banyak ragam jenis kelinci asing yang berkembang. Sebagian untuk piaraan (hobies) sebagaian untuk tujuan penghasil daging berkualitas.

Saking dahsyatnya potensi usaha kelinci, tak heran kalau kemudian buku ini secara khusus membicarakan perihal Investasi, Bisnis, Marketing dan Pemberdayaan. Buku setebal 188 halaman ditulis secara akurat dan detail tentang seluk beluk usaha kelinci. Dalam buku ini disebutkan, populasi kelinci dalam setiap dua bulan sekali kelahiran mampu menghasilkan 6-8 ekor. Kelinci umur 1 bulan menghasilkan 1 kg daging berkualitas dibanding daging hewan lain.

Daging kelinci memiliki kandungan proteinnya tinggi (25 %), rendah lemak (4%), dan kadar kolesterol daging juga rendah yaitu 1,39 g/kg. Kandungan lemak kelinci hanya 8%, sedangkan daging ayam, sapi, domba, dan babi masing-masing 12%, 24%, 14%, dan 21%. Kadar kolesterolnya sekitar 164 mg/100 gram daging, sedangkan ayam, sapi, domba, dan babi berkisar 220—250 mg/100 gram daging.

Maka, dengan cukup memelihara 2 ekor kelinci betina dan 1 ekor kelinci pejantan, sebuah keluarga dengan 5 penghuni sudah lebih cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar gizi. Karena itulah tak heran jika kelinci bisa menjadi solusi untuk melawan gizi buruk bangsa Indonesia .

Potensi daging kelinci dengan harga Rp 20.000 per Kg adalah harga ideal. Dengan harga itu kelinci meninggalkan penghasilan jauh dari ternak hewan lain, seperti domba dan sapi karena populasinya yang cepat (2 bulan sekali beranak) dan biaya pakan rendah serta ramah lingkungan. Kalau hendak menegak untung luar biasa hingga mencapai 4 kali lipat dari penghasil pedaging, kita bisa beternak kelinci untuk tujuan hias,-hanya saja -memiliki resiko instabilitas pada pemasaran.  Di luar tubuhnya kelinci memiliki sejumlah aset luar biasa, pada bulu dan kotoran (pupuk organik) yang sangat berkualitas untuk menyuburkan tanaman, terutama tanaman sayuran, buah dan tanaman hias.

Marketing dan Investasi

Marketing kelinci tergolong unik karena tantangannya bukanlah persaingan, melainkan pembukaan pasar. Pasar kelinci tidak sulit.  Melalui pendekatan yang khas, buku ini membuka mata kita untuk memudahkan meraih peluang pasar. Pasar bisa dibuka di mana saja, dengan mudah dan murah. Trik-trik dagang modern yang manusiawi dijelaskan secara baik dan detail dalam buku ini.

Memang tidak semua orang bisa melakuan ternak kelinci. Solusinya adalah investasi bagi hasil kepada peternak handal. Investasi kelinci bisa dilakukan dengan modal kecil dan besar. Atau jika hendak memakai paradigma pemberdayaan, para investor dengan modal Rp 700.000.  ternak kelinci sangat cocok untuk penguatan ekonomi rakyat. Seandainya kita hendak mengembangkan secara massal, bisa dilakukan kepada para petani di desa. Ini adalah peluang bisnis sekaligus investasi sosial bagi orang kota untuk memajukan perekonomian petani atau kaum santri di desa-desa.

Kandang kelinci bisa dibuat sendiri dari bahan setempat atau barang-barang sisa. Ukuran kandang untuk masing-masing bibit kelinci cukup 70 X 100 cm. Untuk tiap kelompok anak kelinci dari induk cukup 70 X 70  cm.  Jelaslah di sini, pekarangan yang diperlukan tidaklah besar.

Kalau sudah demikian potensial mengapa belum banyak yang ternak kelinci?

Buku ini memberikan jawaban, bahwa masyarakat kita sudah jauh dari "ideologi" beternak maupun bertani. Kebanyakan orang sudah bosan menyandang predikat petani/peternak. Kedua, tidak memiliki lahan dan sarana pendukung, seperti pasokan rumput, pengelolaan pakan dan lain sebagainya. Masalah pertama adalah faktor budaya. Ini adalah masalah mentalitas bangsa secara umum di mana kalangan muda kita lebih dengan gaji pragmatis ketimbang menjadi entrepreneur, terutama di bidang peternakan atau pertanian. Kedua, hanya soal teknis. Sangat bisa diatasi dengan mengenal seluk-beluk ternak kelinci secara mendalam.

Membuka mata lebar-lebar atas setiap potensi adalah cara terbaik bagi kita dan orang-orang di sekitar kita untuk meraih kemajuan. Buku ini sangat baik bagi siapa saja, mereka para petani desa, peternak, pelaku agribisnis dan calon investor yang berminat mengembangkan uangnya beranak pinak secepat populasi kelinci.

Tulisan oleh Makmun Yusuf. Peminat Buku-Buku Kajian Bisnis dan Marketing, tinggal di Yogyakarta. Tulisan ini merupakan resensi terhadap buku: Ternak Uang Bersama Kelinci, Penulis : Faiz Manshur, Penerbit: Nuansa Cendekia (Anggota IKAPI) Bandung Juli 2009. Tebal: 188 halaman, Harga: Rp 36.000.

Sumber: Kompas Online di link ini.

Anyaman rotan tak pernah karatan

Kerajinan anyaman memang tak lekang oleh zaman. Tak sebatas menjadi alat seperti tikar, kreativitas motif dan desain mampu menciptakan beragam bentuk dekorasi lainnya. Peminatnya pun tak hanya dari negeri sendiri tapi juga datang dari luar negeri.

Sudah sejak lama masyarakat Indonesia mengenal seni anyaman dari aneka bahan baku, mulai dari bambu, rotan, dan sekarang ada anyaman eceng gondok dan pelepah pisang. Dulu, produk anyaman sebatas memenuhi kebutuhan. Kini, kerajinan anyaman berkembang menjadi aksesori dan karya seni bernilai tinggi.

Di antara sekian banyak bahan baku, peminat produk anyaman rotan boleh dibilang tak pernah surut. Maklum, anyaman rotan relatif lebih awet ketimbang anyaman dari bahan baku lainnya.

Peminat produk anyaman juga meluas. Selain dari pasar lokal, pemesan produk anyaman datang dari mancanegara. Tak heran bila pengusaha anyaman rotan senang bukan kepalang.

Salah satunya, Bowo Sulistyono. Pemilik Najma Gallery dari Jepara. Pengusaha kerajinan anyaman rotan yang mengawali usahanya tahun 2007 ini, sekarang sudah memasarkan produknya sampai ke luar negeri. "Saya pernah mengirim tiga kontainer barang anyaman ke luar negeri," ujarnya. Tiap kontainer berisi 500 unit produk anyaman. Produk andalannya adalah lampu berdiri (standing lamp).

Bowo mempekerjakan sekitar 15 orang perajin. Sebagian besar pegawainya adalah kaum hawa. "Ibu-ibu lebih teliti dan hasil anyamannya lebih rapi ketimbang kaum pria," tandas Bowo.

Jumlah produksi kerajinan anyaman rotan di rumah usaha milik Bowo boleh dibilang masih terbatas. Maklum, hampir 100% proses penganyaman ini mengandalkan keterampilan tangan.
Dalam seminggu, rumah produksi Bowo yang berada di Mulyoharjo, Jepara menghasilkan hanya 50
unit anyaman. "Rata-rata, satu orang hanya mampu menganyam antara tiga sampai lima kap lampu dengan tinggi satu meter," kata Bowo. Bila ada permintaan dalam jumlah besar, ia akan memberdayakan penduduk sekitar untuk memenuhi pesanan.

Saat ini, Bowo mempunyai lebih dari 200 desain anyaman rotan untuk berbagai produk. Seringkali, ia meracik sendiri motif anyaman rotan itu. Selain itu, Bowo juga mendapatkan inspirasi motif anyaman dari berbagai literatur.

Selain Bowo, produsen anyaman rotan yang lain adalah Guntoro Rusli. Pemilik Light Craft di Surabaya ini juga lebih banyak membuat hiasan lampu dari rotan.

Tahun 2009, Guntoro mulai serius terjun sebagai perajin lampu dekorasi. Supaya bisa mencuil pasar yang telah ada, ia mengklaim mengusung desain menarik lagi unik.

Tidak seperti perajin lampu rotan lainnya, Guntoro menggarap kerajinan dari anyaman rotan dengan desain aneka binatang, seperti kodok, sapi, kucing, gajah hingga kupu-kupu. Pemilihan warna untuk produknya pun tak biasa alias lebih menonjol.

Maklum, Guntoro fokus membidik pasar anak dan keluarga muda sebagai konsumen produk kerajinan anyaman rotan. "Karena itu kami membuat berbagai macam model produk yang unik dan lucu," katanya.

Sama seperti Bowo, Guntoro juga lebih banyak mengandalkan keahlian tangan ketimbang peralatan mesin dalam proses produksinya. "Semua produk kami hand made," tegas Guntoro.

Kendati minim mesin, proses pembuatan aksesori dari anyaman rotan bisa cepat. Sebagai contoh, dia hanya membutuhkan waktu dua jam untuk membuat lampu dekorasi bermodel binatang degan ukuran dimensi 25x10x10 cm. Adapun untuk membuat replika pohon natal dengan ukuran satu meter, Guntoro membutuhkan waktu sekitar satu minggu.

Sudah begitu, kata Guntoro, kualitas kerajinan anyaman rotan yang mengandalkan keahlian tangan dipercaya lebih bagus ketimbang yang menggunakan mesin. "Teknik pembuatannya sederhana, rotan dililit sesuai dengan model yang dibuat. Setelah itu diberi warna," paparnya.
Karena keunikannya, pemasaran produk-produk kerajinan Light Craft ini telah merambah ke seluruh pulau di Indonesia. Seperti Bowo, Guntoro juga mulai merintis pemasaran beragam lampu rotan ini ke pasar ekspor.

Biasanya, permintaan datang dari Italia, Amerika Serikat dan Malaysia. "Untuk pengiriman ke luar negeri, order yang saya terima minimal 50 unit," ujarnya. Sayang, permintaan ekspor belum rutin.

Guntoro menjual berbagai lampu Light Craft dengan harga berkisar antara Rp 95.000 sampai Rp 260.000 per unit. Banderol harga tersebut bergantung pada ukuran lampu. Sementara, harga pohon natal dari anyaman rotan setinggi 1 meter bisa mencapai Rp 4 juta per unit.

Saat Natal tahun lalu, Guntoro mendapatkan pesanan hingga 50 pohon natal dan mengantongi pendapatan hingga Rp 100 juta. Saat bulan-bulan biasa, ia meraih omzet sekitar Rp 50 juta sebulan.

Senada dengan Guntoro, harga kerajinan anyaman rotan yang ditawarkan Bowo juga bervariasi, mulai dari Rp 80.000 sampai Rp 500.000, tergantung ukuran, disain dan tingkat kerumitan.

Bowo mencontohkan untuk lampu meja dengan ukuran kurang dari satu meter, ia mematok harga Rp 80.000. "Saya pernah mendapatkan pesanan dari Bandung untuk membuatkan lampu dengan tinggi dua meter," jelas Bowo.

Selain pesanan lokal, Bowo juga menerima pesanan dari luar negeri, seperti dari Malaysia, Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa pernah menjadi pelanggannya.

Jika order melimpah, Bowo bisa mengantongi omzet hingga Rp 100 juta sebulan. Namun, dalam kondisi biasa saja, omzet Bowo berkisar antara Rp 10 juta hingga Rp 20 juta saban bulan.

Sumber naskah di kontan online di link ini.

Minggu, 19 Juni 2011

Pelayanan yang Ramah dan Terbuka

CU Semandang Jaya menempatkan aspek pelayanan sebagai pilar utama dalam berkarya. Para anggota akan mendapatkan sambutan yang hangat, serta penjelasan yang terbuka dari para pengurus maupun aktivis CU.

Terbukti, pelayanan yang sangat manusiawi dan bersahabat, mampu semakin merekatkan kerja sama dan saling percaya dengan penuh tanggungjawab. Para anggota tidak perlu segan-segan menanyakan sesuatu yang masih belum jelas, sebab para petugas selalu siap melayani anda.

Pertemuan CU se Indonesia di Bali

General Manager CU Semandang Jaya, Blasius Hendi Chandra (kanan) saat mengikuti pertemuan CU seluruh Indonesia di Bali, Mei 2011. Keberadaan CU SJ sudah sedemikian diperhitungkan, sehingga bisa tampil dalam berbagai kesempatan berskala nasional maupun internasional.

Kekuatan dan keberhasilan ini tidak terpelas dari kekompakan dan semangat kebersamaan anggota. Karena itu, CU kita tercinta ini akan selalu kokoh dan mampu menghadapi tantangan jaman, jika semangat persaudaraan terus tumbuh dan dipelihara oleh sesama anggota.

Maket Kantor Pusat CU SJ

Inilah gambar maket kantor pusat CU Semandang Jaya. Kini gedung tersebut telah berdiri megah di Desa Balai Semandang, Kecamatan Simpang Hulu, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Gedung yang representatif merupakan buah karya pengurus bersama seluruh anggota. Gedung yang megah dan kokoh ini adalah milik bersama, karena dibangun dengan kekuatan bersama.

Selasa, 31 Mei 2011

Simpanan Saham (Kode: S-1)

Simpanan Saham (Kode: S-1)

Simpanan Saham adalah simpanan kepemilikan  dengan balas jasa simpanan sebesar 6 % per tahun yang terdiri dari Simpanan Wajib dan Simpanan Pokok. Simpanan Wajib adalah Simpanan yang wajib disetor oleh anggota setiap bulan sedangkan simpanan pokok adalah modal utama anggota yang disetor sekali selama menjadi anggota.

Karakteristik
1.    Simpanan Pokok (SP) sebesar Rp. 1.000.000;
2.    Simpanan Wajib (SW) Rp. 10.000 dan disetor setiap bulan, untuk bulan yang telah lewat bisa dirapel.
3.    Tidak dapat ditarik selama yang bersangkutan menjadi  anggota.
4.    Balas Jasa Simpanan dibukukan pada  akhir tahun dan disesuaikan dengan keaktifan anggota. Untuk anggota yang aktif sebasar 6 % pertahun dan untuk anggota kurang aktif sebesar 3% pertahun.
5.    Dikatakan anggota yang kurang aktif apabila tidak menabung  maksimal  5 bulan dalam satu tahun buku.
6.    Penggantian buku hilang/rusak Rp. 10.000;
7.    Biaya tutup rekening Rp. 25.000
8.    Kepemilikan Simpanan Saham bagi anggota CU Semandang Jaya  merupakan   syarat mutlak untuk bisa mengajukan pinjaman.
9.    Dilindungi oleh ASURANSI SIMPANAN ANGGOTA (ASIM)

Ketentuan Pinjaman

Ketentuan Pinjaman
Pinjaman adalah bentuk pelayanan CU-SJ kepada anggota untuk mengatasi kesulitan keuangan dan diberikan atas dasar kemampuan dalam mengembalikan pinjaman

a. Ketentuan Umum.
1.    Yang menangani perkreditan adalah Kabag kredit atau Koordinator TP.
2.    Pinjaman hanya diberikan kepada anggota CU Semandang Jaya yang telah memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan dalam kebijakan.
3.    Yang boleh mengajukan permohonan pinjaman adalah  anggota yang berusia 17 tahun atau sudah menikah
4.    Pemohon mengisi Surat Permohonan Pinjaman yang telah tersedia di Kantor Tempat Pelayanan CU-SJ dan diterima apabila sudah diisi lengkap. Surat Permohonan Pinjaman tidak memberikan hak otomatis bagi anggota untuk mendapatkan pinjaman.
5.    Calon peminjam wajib melampirkan foto copy KTP/SIM yang masih berlaku.
6.    Pemohon berkonsultasi langsung ( tidak dapat diwakilkan )  dengan Kabag Kredit/Koordinator TP.
7.    Peminjam pemula dapat diberikan maksimal sebesar modal (simpanannya).
8.    Anggota yang masih mempunyai sisa pinjaman ( belum lunas), ia dapat mengajukan pinjaman lagi setelah pinjaman lama telah lunas.
9.    Peminjam yang sudah menikah wajib meminta persetujuan isteri atau suaminya.
10.    Kewenangan untuk mengabulkan, mengurangi, menangguhkan dan menolak permohonan pinjaman dan menentukan jangka waktu pengembalian pinjaman menjadi wewenang Bagian Kredit atau Koordinator TP berdasarkan analisis 5 C.
11.    Bila pembayaran angsuran/menyimpan secara ” Mengebom ”  boleh mengajukan pinjaman baru,  setelah simpanannya mengendap selama 3 ( tiga ) bulan.
12.    Pencairan pinjaman dilakukan dari tanggal 6 – 26 setiap bulannya (Pencairan kredit dapat disepakati waktu konsultasi


b Jatuh Tempo dan denda
1.    Setiap pinjaman yang dikabulkan  dan sudah dicairkan dikenakan sistem jatuh tempo.
2.    Jatuh tempo adalah tanggal pencairan pinjaman.
3.    Pembayaran angsuran dan bunga pinjaman setelah jatuh tempo dikenakan denda dengan batas toleransi adalah 5 ( lima ) hari dalam bulan yang bersangkutan.
4.    Apabila terjadi kelalaian angsuran dan pembayaran bunga kredit,maka peminjam dikenakan denda sebesar 3 % per bulan terhadap angsuran dan 3 % per bulan terhadap bunga tertunggak.
5.    Jika terjadi tunggakan angsuran pokok dan atau kekurangan angsuran pokok maka dikenakan denda sebesar 3 % dari tunggakan dan atau kekurangan angsuran pokok tersebut.

c. Biaya administrasi dan Potongan Pinjaman
1. Beli Formulir        Rp. 1000 perlembar
2. Biaya Matrai        Rp. 5000 atau Rp. 8000 permatrai
3. Jaspel
4. Kewajiban menabung
5. Angsuran minimal bulan pertama (kecuali P-1 ).

c. Jenis Jenis Pinjaman
Pinjaman dibagi tiga Jenis yaitu : Pinjaman Usaha  Produktif, Pinjaman Konsumtif & Pinjaman Darurat.

Simpanan Saham


Simpanan Saham adalah simpanan kepemilikan  dengan balas jasa simpanan sebesar 6 % per tahun yang terdiri dari Simpanan Wajib dan Simpanan Pokok. Simpanan Wajib adalah Simpanan yang wajib disetor oleh anggota setiap bulan sedangkan simpanan pokok adalah modal utama anggota yang disetor sekali selama menjadi anggota.

Senin, 30 Mei 2011

Tabungan Masa Aman (Taman)

Tabungan Masa Aman (Taman)
Kode        : S-2

Taman adalah Simpanan Masa Aman  anggota yang dipergunakan untuk pensiun, dengan Balas Jasa Simpanan sebesar 14 % per tahun (bunga berbunga). Dikatakan Aman apabila saldo telah mencapai minimal Rp. 50.000.000. Dan jika terjadi penarikan diatas saldo aman, Balas Jasa  tidak mengalami penurunan.

Karakteristik
1.    Jasa Simpanan 14 % pertahun atau 1,16 % perbulan (system bunga harian)  apabila: Saldo minimal Rp.1.000.000; ( satu juta rupiah ) menyetor minimal Rp.20.000; per bulan, tidak ada penarikan.
 Variasi Suku Bunga
1.1.    SB-1 =   3 % Pa Ada penarikan simpanan
1.2.    SB-2 =    4% Pa Tidak menabung dan tidak ada penarikan
1.3.    SB-3 =    4% Pa Menyimpan kurang dari setoran minimal
1.4.    SB-4 = 14% saldo minimal Rp.1.000.000; dan menyetor 20.000 serta tidak ada penarikan
1.5.    SB-5 =  14% Pa Meskipun ada penarikan dan atau tidak ada  setoran (Titik Aman 50 juta)
2.    Balas Jasa Simpanan sewaktu-waktu dapat berubah tergantung pada segmen pasar.
3.    Penggantian Buku Hilang/Rusak Rp. 10.000;
4.    Biaya tutup rekening Rp.25.000
5.    Penabung Taman yang aktif sesuai ketentuan dapat diberikan bantuan yg ketentuanya sebagai berikut :

A. Bantuan Menikah Untuk kaum Muda/mudi.
Syarat mendapat bantuan :
1. Jumlah tabungan Taman Minimal Rp.5.000.000,-
2. Mengendap minimal 3 bulan.
3. Aktif menabung dan bila meminjam sesuai dengan perjanjian pinjaman.

Tidak pernah menarik simpanan.
4. Jumlah bantuan Rp.500.000,- per pasangan.
5. Menyerahkan Buku Rekening Taman, kartu Peserta Solusi, foto Copy KTP, Surat Nikah atau Surat Keterangan Nikah dari Tokoh Agama diberikan paling lama 2 bulan setelah menikah.
6. Yang telah mendapat bantuan, Taman tidak boleh ditarik  selama 12 bulan berikutnya.

B. Bantuan Bagi Ibu yang melahirkan ( BIM ).

Syarat mendapat bantuan :
1.  Jumlah tabungan Taman Suami dan Istri Minimal    Rp.5.000.000,-
2.    Mengendap minimal 3 bulan.
3.    Aktif menabung, Tidak pernah menarik simpanan. dan bila meminjam mengangsur sesuai dengan perjanjian pinjaman
4.    Jumlah bantuan sekali melahirkan Rp.200.000,- untuk biaya persalinan.
dan Rp. 300.000,- untuk modal    awal sibayi menjadi anggota .
5.    Bantuan diberikan untuk anak pertama( 1 )  hingga anak ketiga (3).
6.    Bantuan diiberikan paling lama  3 bulan setelah melahirkan.
7.    Menyerahkan : Buku  Taman suami dan istri, Kartu BIM, Kartu Keluarga,
      Surat Keterangan Lahir dari Desa.
8.    Bukti Biaya melahirkan dari Puskesmas/Rumah Sakit/Dukun Beranak.
9.    Yang telah mendapat bantuan, Taman tidak boleh ditarik selama 12 bulan berikutnya.
10.    Keluarga inti sudah menjadi anggota CU.

Pinjaman Darurat

Pinjaman Darurat (Kode : P-8)

Adalah pinjaman untuk tujuan mengobati anggota keluarga yang sakit dalam menanggulangi biaya transportasi dan masuk rumah sakit. Setelah selesai pengobatan baru proses pencairan  pinjaman tahap II.

Jangka waktu    : maksimal 60 bulan
Plafon            : Tahap I  maksimal 10 juta
Tahap II maksimal 10 juta, setelah rincian biaya dari rumah sakit/Poliklinik/Puskesmas.

Bunga         : 2 % dari saldo pinjaman perbulan

Jaspel 2 % dari pinjaman cair


Karakteristik:
1.    Melampirkan Photo Copy Kartu Keluarga
2.    Melampirkan Daftar Biaya Berobat.
3.    Biaya Matrai minimal Rp.4000
4.    Dicairkan sekaligus  tetapi yang dibawa pulang sesuai dengan keperluan . Sisa yang belum dibutuhkan disimpan di rekening Pasimpong. Dan diserahkan setelah ada penyerahan biaya berobat dari rumah sakit/Puskesmas/poliklinik.
5.    Sudah menjadi anggota penuh minimal 3 bulan dan menabung minimal Rp. 20.000 perbulan pada Rekening Saham dan Taman
6.    Pinjaman atas nama anggota keluarga  yang bersangkutan dan memenuhi persyaratan pinjaman.
1.    Diketahui suami/istri bagi yang sudah berkeluarga
2.    Memerlukan penjamin minimal 2 orang.
3.    Jaminan berupa Simpanan, tanah dan atau rumah, Kaplingan Tanah/Kebun,  dan diikat dalam perjanjian (fidusia) antara lembaga dan peminjam.
4.    Jaminan berupa rumah dan atau tanah atau kaplingan Tanah/kebun, mudah diuangkan kapan saja dan layak. Layak artinya: Bersertifikat, telah diasuransikan, sesuai dengan jumlah pinjaman, tidak sedang menjadi jaminan kepada pihak lain, sudah dilakukan peninjauan oleh bagian Lapangan.
5.    Apabila menunggak, dikenakan denda 3 % dari angsuran tertunggak dan 3 % dari bunga tertunggak.
6.    Melalui analisis 5 C  oleh bagian kredit
7.    Menunggak maksimal 3 bulan berturut-turut barang jaminan disita
8.    Bulan pertama belum dilindungi ASPIN

Biaya Transkhat

Biaya Transkhat (Kode : S.9)

Pengiriman uang lewat CU-SJ baik anggota maupun non anggota dikenakan biaya pengiriman dengan ketentuan sebagai berikut :

a.    Untuk anggota :

1.Pengiriman Rp.100.000,-500.000,- biaya          = Rp.10.000,-
2. Pengiriman Rp.600.000-1.000.000,- biaya    = Rp.15.000
3. Pengiriman Rp.1.001.000..- 5.000.000,- biaya     = Rp.25.000,-
3. Pengiriman Rp.5 001.000- 10.000.000,-           = Rp.50.000.-
4. Pengiriman Rp.10.001.000,-- 25.000.000        = Rp.75.000
5. Pengiriman Rp.26.000.000- 50.000.000         = Rp.100.000,-
6. Pengiriman Rp.51.000.000 – 100.000.000    = Rp 150.000,-
7. Pengiriman Rp.100.000.000 –500.000.000,-    = Rp. 200.000,-

b.    Untuk Non anggota :
1.Pengiriman  Rp.100.000,-500.000,- biaya      = Rp.15.000,-
2. Pengiriman Rp.600.000-1.000.000,- biaya     = Rp.20.000
3. Pengiriman Rp.1.001.000..- 5.000.000,- biaya       = Rp.30.000,-
3. Pengiriman Rp.5 001.000- 10.000.000,-              = Rp.75.000.-
4. Pengiriman Rp.10.001.000,-- 25.000.000        = Rp.100.000
5. Pengiriman Rp.26.000.000- 50.000.000         = Rp.150.000,-
6. Pengiriman Rp.51.000.000 – 100.000.000    = Rp 200.000,-
7. Pengiriman Rp.100.000.000 –500.000.000,-    = Rp. 300.000,-

Sobat (Solideritas Berobat)

Sobat (Solideritas Berobat)Kode S-7

Sobat adalah solideritas bersama anggota CU-SJ untuk meringankan biaya berobat bagi anggota CU-SJ yang menderita penyakit Demam Berdarah, Malaria, Asma, stroke, Muntaber, Hepatitis, Thypes,  Kecelakaan dan diopname di Rumah Sakit/Puskesmas.

Karakteristik:
1.    Peserta adalah anggota CU SJ
2.    Iuran Sobat tidak dibungakan dan tidak bisa ditarik oleh penyumbang meskipun  penyumbang keluar dari keanggotaan CU-SJ.
3.    Iuran Sobat Rp. 20.000; (uang kontan) dalam satu tahun buku.
4.    Iuran tahun buku sebelumnya bisa dirapel.
5.    Iuran dan klaim hanya berlaku dalam satu tahun buku saja
6.    Beli Kartu /Ganti Kartu Iuran Rp. 5000;
7.    Klaim diberikan :
6.1. Melunasi persyaratan  menjadi anggota (point A.5)
6.2. Bagi anggota aktif dan  lunas Iuran Sobat dalam tahun   sebelumnya dan tahun buku berjalan (minimal 30 hari mengendap).
6.3. Maksimal Rp. 50.000 sekali klaim dan hanya 4 kali klaim dalam satu tahun buku.
6.4. Maksimal 2 bulan setelah kejadian dengan membawa bukti biaya berobat yang telah dilegalisir (ditandatangani dan di cap) oleh petugas dari Rumah Sakit/ Puskesmas/Poliklinik.

8.    Klaim ditolak apabila:
6.1    Tidak melunasi kewajiban persyaratan sebagai anggota.
6.2    Tidak membayar iuran sebelum kejadian dalam tahun buku berjalan dan pernah tidak membayar iuran dalam tahun tahun buku sebelumnya.
6.2    Keluar atau dikeluarkan dari keanggotaan.
6.3    Tidak menyertakan bukti-bukti yang cukup dalam pengajuan.
6.4.    Pengajuan sudah diatas 2 bulan setelah kejadian
6.5.    Tidak menabung lebih dari 3 bulan dan bila meminjam menunggak pinjaman lebih dari 3 bulan berturut-turut. meskipun iuran Sobat  lunas.
6.7.    Anggota pemula yang masuk melalui pinjaman kapitalisasi namun belum lunas.

Pupu Caup (PC)

Pupu Caup (PC)
Kode S-6

Pupu Caup adalah solidaritas (sumbangan duka) bersama anggota CU-SJ terhadap anggota yang meninggal dunia

Karakteristik :
1.    Iuran Pupu Caup tidak dibungakan dan tidak bisa ditarik oleh penyumbang meskipun  penyumbang keluar dari keanggotaan CU-SJ.
2.    Iuran Pupu Caup Rp. 20.000; (uang kontan) dalam satu tahun buku.
3.    Pembelian Buku PC/Ganti Buku Rp. 5000;
4.    Iuran bisa dirapel untuk tahun buku sebelumnya.
5.    Iuran berlaku dalam satu tahun buku saja.
6.    Klaim diberikan :
7.1    Melunasi persyaratan  menjadi anggota (point A.5)
7.1    Rp. 2 juta bagi anggota aktif dan  lunas Iuran PC dalam tahun sebelumnya dan tahun buku berjalan (minimal 30 hari mengendap).
7.2    Rp. 750 ribu bagi anggota kurang aktif (tidak menabung maksimal 3 bulan bila meminjam menunggak maksimal 3 bulan) namun iuran PC lunas dalam  tahun buku sebelumnya dan tahun buku berjalan.
7.3    Kepada ahli waris yang berduka saat berita duka disampaikan dengan membawa buku PC anggota yang meninggal dunia.

7.    Klaim ditolak apabila:
8.1    Tidak melunasi secara tunai persyaratan menjadi anggota  (point A.5)
8.1    Tidak membayar iuran dalam tahun buku berjalan atau pernah tidak membayar iuran dalam tahun tahun buku sebelumnya.
8.1    Tidak menabung atau bila meminjam tidak mengansur pinjaman lebih dari 3 bulan
8.2    Meninggal akibat bencana alam, peperangan/kerusuhan (secara masal)
8.3    Tidak menabung lebih dari 3 bulan dan bila meminjam menunggak pinjaman lebih dari 3 bulan berturut-turut. meskipun iuran PC lunas.
8.4.    Keluar atau dikeluarkan dari keanggotaan CU-SJ.
8.5.    Jumlah klaim yang diberikan dapat berubah tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, tergantung pada ketersediaan dana iuran di  CU-SJ.
8.6.    Anggota pemula yang masuk melalui pinjaman kapitalisasi namun belum lunas.

TAKENDA (Tabungan Kendaraan)

TAKENDA (Tabungan Kendaraan)
Kode S-7

Latar belakang dan Tujuan TAKENDA :
1. Sebagian besar pelanggan CU SJ adalah memiliki keinginan untuk memiliki sebuah kendaraan sebagai sarana untuk memperlancar pekerjaan, namun dalam proses mewujudkannya belum terencana dengan baik.
2. Tujuan Takenda adalah menjadikan pelanggan CU SJ agar dalam proses pembelian kendaraan direncanakan dengan matang sehingga terwujudlah “ Panyalant Koh Copat Tuju Ko Dapat ”

TAKENDA  adalah produk Simpanan dalam bentuk TERENCANA  dengan ketentuan sbb :
1.    Penabung adalah anggota maupun non anggota CU Semandang Jaya.
2.    Setoran awal minimal sebesar Rp 100.000.
3.    Biaya administrasi untuk penabung baru sebesar Rp 20.000,- ( dua puluh ribu rupiah ).
4.    Penyetoran dapat dilakukan secara rutin setiap jam kerja.
5.    Penyetoran dapat dilakukan dengan setoran tunai
6.    Biaya penggantian buku karena hilang dan atau rusak sebesar Rp 10.000,- ( sepuluh ribu rupiah )
7.    Bunga TAKENDA diberikan pada setiap akhir bulan dengan sistim bunga harian.
8.    Bunga TAKENDA   4 % pertahun atau 0,33  % perbulan.
9.    Penarikan TAKENDA dapat dilakukan apabila jumlah tabungan senilai dengan  harga kendaraan yang mau di beli.
10.    Pembelian kendaraan bisa lewat CU-SJ atau penabung yang bersangkutan.
11.    Penarikan sebelum jatuh tempo dikenakan biaya administrasi sebesar Rp. 50.000.
12.    TAKENDA  tidak dilindungi oleh ASPA.
13.    Bunga TAKENDA sewaktu-waktu dapat berubah tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada penabung.
14.    Biaya Tutup Rekening sebesar Rp 20.000,-( duapuluh ribu rupiah ).

TARUM (Tabungan Untuk Perumahan)

TARUM  (Tabungan Untuk Perumahan)
Kode: S-5

Latar belakang dan Tujuan
1.    Sebagian besar pelanggan CU SJ adalah memiliki keinginan untuk membuat rumah sebagai tempat berlindung yang aman.
2.    Tujuan TARUM adalah agar pelanggan memiliki rumah sesuai dengan impiannya : “RumahKU, IstanaKU”.

TARUM adalah produk Simpanan dalam bentuk TERENCANA  dengan
ketentuan sbb :
1.    Penabung adalah anggota maupun non anggota CU Semandang Jaya.
2.    Setoran awal minimal sebesar Rp 100.000,-dan setoran berikutnya dapat disetor secara teratur setiap bulan berdasarkan kontrak yang diminta oleh penabung.
3.    Masa kontrak menabung dapat memilih nilai investasi rumah :
         
Tabel Nilai Ivestasi :

No    Nilai Rumah    Masa Kontrak (Bulan)    Modal Awal Kontrak    Setoran perbulan      
1    5 – 10 juta                  
2    11 – 30 juta                  
3    31 – 50 juta                  
4    51 – 75 juta                  
5    76 – 100 juta                  
6    101 – 150 juta                  
7    151 – 200 juta                  
8    201 – 250 juta                  
9    251 – 300 juta                  
10    301 – 500 juta               

4.    Biaya administrasi untuk penabung baru sebesar Rp 20.000,- ( duapuluh ribu rupiah ) dan selanjutnya bebas biaya administrasi bulanan.
5.    Penyetoran dapat dilakukan setiap jam kerja.
6.    Penyetoran TARUM dilakukan dengan setoran tunai, kecuali melalui pinjaman dibawah simpanan.
7.    Biaya penggantian buku karena hilang dan atau rusak sebesar Rp 10.000,- ( sepuluh ribu rupiah )
8.    Bunga TARUM diberikan pada setiap akhir bulan dengan sistim bunga harian.
9.    Bunga TARUM  adalah  5 % pertahun atau 0,4  % perbulan dan sewaktu-waktu dapat berubah.
10.    Penarikan tabungan dilakukan dengan cara bertahap seperti membeli tanah/rumah, menyiapkan bahan baku, menyiapkan bahan jadi, upah tukang dan ketika pembangunannya selesai.
11.    Dalam proses pembangunan rumah staf dapat membantu mengarahkan, dan membimbing anggota dalam mencapai impiannya tersebut.
12.  Penarikan sebelum jatuh tempo (masa kontrak) bagi non anggota dikenakan biaya administrasi sebesar Rp. 50.000
13.    TARUM tidak dilindungi oleh ASPA.
14.    Biaya Tutup Rekening sebesar Rp 20.000,-( duapuluh ribu rupiah ).

Pasimpong (Kode: S-4)

Pasimpong (Kode: S-4)
Pasimpong adalah tabungan harian dengan Balas Jasa Simpanan sebesar 3 % pertahun atau 0,25 % perbulan. Disebut tabungan harian karena bisa ditarik setiap jam kerja kecuali penarikan diatas Rp. 50.000.000 perlu pemberitahuan satu bulan sebelumnya.

Karakteristik:
1.    Pembelian Buku Rekening/Ganti Buku Rp. 10.000
2.    Bunga dibukukan pada setiap akhir bulan dengan system bunga harian dan sewaktu-waktu dapat berubah.
3.    Saldo minimal Rp. 25.000 dan biaya tutup rekening Rp. 25.000.
4.    Pasimpong dapat dijadikan jaminan pinjaman.
5.    Pasimpong yang dijadikan jaminan pinjaman tidak dapat ditarik selama pinjaman belum lunas.
6.    Penarikan Rekening tidak dapat diwakilkan.
7.    Dapat dialihkan ke Saham dan Taman.
8.    Tidak dilindungi ASURANSI SIMPANAN ANGGOTA

Tabungan Untuk Anak Sekolah (Tuas)

Tabungan Untuk Anak Sekolah (Tuas)Kode        : S-3

Tuas adalah Tabungan Untuk Anak Sekolah, dengan balas jasa simpanan 4 % pertahun atau 0,33 % perbulan/sitem bunga harian (bunga dapat berubah tanpa pemberitahuan terlebih dahulu)

Karakteristik:
1.    Pemilik  berusia maksimal 25 tahun, anggota maupun non anggota.
2.    Setoran awal mimal Rp. 10.000
3.    Saldo minimal Rp. 10.000
4.    Bunga dibukukan pada setiap akhir bulan (sitem bunga harian)
5.    Penyetoran TUAS dilakukan setiap jam kerja atau melalui kolektor yang ditunjuk.
6.    Penarikan dapat dilakukan setiap saat untuk keperluan pendidikan.
7.    Dapat dialihkan ke Simpanan Saham dan Taman.
8.    Beli Buku Rekening/Ganti Buku Rp.5000
9.    Biaya tutup rekening Rp. 10.000
10.  Tidak dilindungi AURANSI SIMPANAN ANGGOTA.